Sabtu, 13 September 2014

Filled Under: ,

Florence Sihombing Menghina Yogyakarta: Konten Kesukaan Kita Semua


Kasus Florence Sihombing agaknya sudah sedikit basi untuk dibahas dan memang sebaiknya tidak usah dibahas terlalu sering, karena buat apa sih? Namun, maafkan saya karena akan membahasnya kembali dengan sedikit pengamatan pribadi. Sebenarnya ada beberapa hal seru yang bisa kita lihat dalam konten buatan Florence yang cepat populer di Indonesia ini: tema kekerasan.

Menurut Konrad Lorenz, ahli psikologi di abad pertengahan yang teorinya banyak dipakai dalam ilmu psikologi moderen, insting agresi merupakan insting paling utama sehingga dalam teori agresinya, cinta sendiri merupakan produk dari insting agresi. Menurut catatan sejarah pula, kemapanan yang telah dicapai oleh manusia dalam hal sosial-ekonomi justru menjadi stimulus untuk melakukan kerusakan.

Merujuk dari teori dan catatan sejarah tersebut, memang sewajarnya manusia girang terhadap hal-hal berbau kekerasan karena hal tersebut merupakan dorongan yang tertanam secara alamiah. Apalagi manusia di Indonesia yang lahir dari sistem feodalisme barat serta kekuatan kelompok, segala sesuatu berbau kekerasan yang melibatkan kelompoknya pastilah sangat laris.

Membuat konten yang menarik pada dasarnya adalah menyesuaikan kondisi target audience-nya. Jika ingin cepat populer di Indonesia, mencontoh konten-konten agresif yang selama ini laris seperti milik Florence Sihombing, atau seperti kasus yang sebelum ini juga berasal dari postingan path yaitu kasus Dinda yang menghina kaum ibu hamil yang menyerobot tempat duduk di KRL, sepertinya bisa diterapkan.

Dari pengamatan tersebut, ada beberapa poin yang ingin penulis sampaikan sebagai simpulan tentang bagaimana membuat konten dengan tema kekerasan tanpa mencederai citra brand:

1. Jadikan satu kelompok di luar kelompok target audience sebagai obyek kekerasan.
Tidak ada manusia yang mau memiliki posisi lebih rendah dibanding manusia lainnya sehingga setiap orang sesungguhnya senang apabila ada orang yang posisinya bisa direndahkan. Dukung keinginan tersebut. Berikan konten yang menunjukkan bahwa target audience merupakan kelompok dominan.

2. Jadikan target audience seolah pahlawannya.
Walaupun menyukai kekerasan, manusia sebenarnya ingin tampil sebagai pihak yang baik di dalamnya. Berikan kesempatan itu pada target audience kita. Misalnya adalah filosofi yang diangkat oleh sepatu Toms, “Konsumen sebagai pahlawan, brand sebagai mentor”. Toms lahir dengan konsep “one to one”. Ia memberikan satu sepatu pada anak-anak kurang beruntung (akibat ‘kekerasan’ yang dilakukan umat manusia) setiap kita membeli 1 sepatu Toms.

3. Singgung sedikit masalah minor di dalam kelompok target audience dan jadilah bagian di dalam kelompok tersebut.
Saat kita berkulit hitam dan menghina orang dengan kulit hitam hal itu bukanlah hal yang rasis. Tetapi saat kita berkulit putih dan menghina orang kulit hitam, hal itu mutlak adalah hal yang rasis. Begitu juga komunikasi yang terjadi antara brand dengan target audience-nya. Sebisa mungkin, jadilah bagian dari identitas kelompok yang kita tuju. Carilah identitas paling umum yang bisa mencakup seluruh target audience. 

Misalnya, seorang vlogger asal Kanada bernama Sacha Stevenson yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, menyinggung kebiasaan orang Indonesia seperti memasak makanannya secara deep-fried sehingga membuatnya tinggi kolesterol. Hal itu dapat diterima dengan senang hati oleh orang Indonesia lainnya karena Sacha mengaku bahwa ia sendiri melakukan hal itu. Walaupun sebenarnya Sacha adalah seorang kulit putih yang kebetulan tinggal di Indonesia, tetapi Ia memposisikan dirinya sebagai warga Indonesia sehingga olokan yang dapat memicu kekerasan online tersebut justru menjadi hal menarik untuk dijadikan refleksi oleh target audience.

Tidak ada orang di dunia ini yang mutlak tidak pernah melakukan kesalahan. Sifat alamiah seperti tindak kekerasan justru akan membuat brand menjadi benar-benar hidup di antara kita. Mengakui kekurangan brand sehingga menumbuhkan keagresifan target audience bukan sepenuhnya hal yang buruk saat kita tahu cara yang tepat.

The Author :






Referensi:
http://news.okezone.com/read/2012/09/01/337/683638/pengamat-masyarakat-indonesia-suka-kekerasan
http://www.adweek.com/news/advertising-branding/brands-need-stop-trying-play-hero-156984 Fromm, Erich. 2000. The Anatomy of Human Destructiveness. Jakarta: Pustaka Pelajar.

0 komentar:

Posting Komentar