Sabtu, 27 September 2014

Filled Under:

Follow Your Passion is Bullshit ?


Kalimat “Follow Your Passion” nampaknya sudah tidak asing lagi buat kita. Passion. Gairah. Tidak ada passion, maka bisnis kita tidak akan jalan. Tidak ada gairah dalam diri, maka bisnis kita tidak akan sustainable. Bahkan Ada yang bilang, embrace your passion. Kalau ngga ngerti passion kamu apa, mending mati aja deh!. Namun belakangan muncul pernyataan bahwa kalimat “Follow Your Passion” itu menyesatkan dan hanya omong kosong! Benarkah? Mari kita coba pelajari bersama-sama.

Saya meyakini bahwa ada 3 faktor yang jika semuanya menyatu, maka akan menjadikan sebuah hasil yang fantastis. Ketiga faktor tersebut adalah Passion, Market, dan Competence. Faktor-faktor inilah yang wajib ada untuk melahirkan produk yang MAGIC!. Kita tidak bisa memisahkan salah satunya. Contohnya begini :
Kita punya passion, kita punya pengguna/pembeli (market), namun kita tidak memiliki kompeten di bidang tersebut. Hasilnya? bersiaplah untuk menjadi Loser!. Di luar sana bahkan ada banyak sekali orang-orang yang memiliki kompetensi yang lebih bagus daripada kita. Cerita lain lagi, jika kita punya passion, kita punya kompeten, namun tidak ada yang mau menggunakan atau bahkan membeli produk kita. Hasilnya? Produk kita hanyalah akan menjadi mimpi! Jangan sia-siakan waktu kita hanya untuk membuat produk khayalan. Jangan sia-siakan effort kita. Lalu bagaimana jika kita punya kompeten, kita punya market, namun kita tidak punya passion? Maka yang terjadi adalah kita akan dibuat bosan dengan pekerjaan kita sendiri, kita tidak akan bisa mencintai pekerjaan yang kita kerjakan!

Beberapa hari yang lalu saya menonton film jOBS. Film yang menceritakan tentang perjuangan Steve Jobs membangun Apple Computer. Teman-teman yang sedang berjuang di startup wajib menonton film ini. Di film tersebut diceritakan bagaimana Steve pertama kali menemukan komponen Board Personal Computer yang sedang dikerjakan oleh temannya, Steve Wozniak. Komponen tersebut bisa dihubungkan dengan TV atau monitor lainnya. Inilah ide yang mengawali Steve Jobs dalam membangun Apple Computer. Saya tidak akan banyak bercerita tentang film tersebut di sini. Bagian paling menarik dari film ini menurut saya adalah ketika Steve Jobs mengangkat John Sculley sebagai CEO Apple waktu itu. Seperti kita ketahui, John Sculley adalah seorang bisnisman ternama yang saat itu, sebelum bergabung di Apple, ia adalah CEO dari Pepsi. Sepak terjangnya di dunia bisnis tidak diragukan lagi, itulah kenapa Steve Jobs mengajak ia bergabung dengan Apple. Namun, apakah Apple bisa berkembang di tangan Sculley? Justru saham Apple dalam beberapa tahun setelah dipegang oleh Sculley turun tajam!

Menurut pendapat saya, kenapa Saham Apple justru turun setelah dipegang oleh orang sekaliber Sculley adalah karena Sculley tidak memiliki semangat yang sama dengan Steve Jobs, orientasinya berbeda, ia hanya ingin agar Apple mendapatkan keuntungan yang besar tanpa memperhatikan konsumen dan justru bergerak jauh dari keunikan Apple yang sudah dibangun oleh Jobs. Sculley tidak memiliki Passion yang dimiliki oleh Jobs dalam mengembangkan Apple, begitu pula dengan Gil Amelio, pengganti Sculley. Sampai akhirnya ketika Steve Jobs kembali memimpin perusahaannya, Apple perlahan kembali bangkit dan akhirnya pada September 2012 perusahaan ini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia.

Cerita lain lagi datang dari Samuel Pierpont Langley serta Wilbur Wright dan Orville tentang bagaimana mereka mencoba mewujudkan mimpi menjadi orang pertama yang bisa terbang. Bagian menariknya adalah Bagaimana bisa Wright Brothers yang tanpa dilengkapi oleh perlengkapan ‘pasti sukses’ dan modal banyak seperti yang dimiliki Langley bisa lebih sukses? Jawabannya adalah Karena mereka berdua, Wilbur Wright dan Orville berangkat dari alasan WHY. Mereka memiliki mimpi. Mereka tahu kenapa sangat penting untuk membangun mesin ini. Mereka percaya jika mereka bisa membangun pesawat ini mereka akan mengubah dunia. Berbeda dengan Langley yang hanya mengejar achievement dan berangkat dari WHAT. Langley memiliki tujuan yang jelas dan luar biasa, tetapi tidak memiliki pandangan yang jelas tentang WHY. Tujuannya membangun pesawat didefinisikan dengan WHAT, ia melakukan karena APA (WHAT) yang bisa ia dapat. Terlebih lagi, Langley ingin menjadi yang pertama. Ia ingin kaya dan terkenal, hal ini yang men-drive motivasinya. Yap, Langley tidak memiliki passion untuk memecahkan masalah terbang di angkasa, tetapi ia hanya mencari achievement.

So, Kesimpulannya adalah kalimat “Follow Your Passion” bisa menjadi sesat atau bisa jadi tidak sesat. Bisa menjadi sesat jika kita hanya mengikut passion kita tanpa memperhitungkan dua faktor lainnya (Market dan Kompetensi) dan bisa menjadi tidak sesat jika kita tidak hanya mengikuti passion kita saja. Sama seperti Market dan kompetensi, Passion sangat penting dalam membangun bisnis, contoh kisah Apple dan Wright bersaudara sudah menjadi buktinya.

Selamat menjalankan bisnismu!

The Author :
Ahmad Syarif Afandi

0 komentar:

Posting Komentar